Liputan4.id teminabuan 9 Desember 2025
Yunus Esagoi, salah satu tenaga kesehatan lokal Papua yang pernah bertugas pada masa transisi administrasi kesehatan peninggalan Belanda pada era 1970-an, memberikan kesaksian berharga mengenai perjalanan sejarah pelayanan kesehatan di Papua. Pengalamannya sebagai mantri di Rumah Sakit Selebesolo Km 12 Sorong menjadi salah satu potret penting bagaimana pelayanan kesehatan di masa itu dibangun dengan kedisiplinan dan etos kerja tinggi.
Pelayanan Kesehatan Zaman Belanda: Disiplin, Teratur, dan Berorientasi pada Keselamatan Pasien
Dalam kesaksiannya, Yunus Esagoi menegaskan bahwa pelayanan kesehatan pada masa Belanda memiliki standar perawatan yang sangat baik, meski kondisi infrastruktur Papua pada masa itu masih terbatas.
> “Perawatan pasien zaman Belanda sangatlah terawat dengan baik walaupun kasusnya berat. Semua pasien ditangani secara teliti, rapi, dan penuh tanggung jawab,” ujar Yunus Esagoi.
Ciri khas pelayanan saat itu meliputi:
1. Kedisiplinan Tenaga Medis
Tenaga medis lokal dilatih langsung oleh tenaga kesehatan Belanda dengan standar yang ketat, mulai dari manajemen obat, kebersihan ruangan, hingga aturan kunjungan pasien.
2. Kebersihan sebagai Prioritas Utama
Setiap ruang rawat harus steril sesuai standar. Pemeriksaan harian dilakukan secara rutin dan tercatat rapi dalam laporan harian.
3. Tata Administrasi yang Akurat
Semua pasien, termasuk kasus berat, ditangani dengan sistem pencatatan yang rapi, sehingga memudahkan penelusuran perkembangan kesehatan mereka.
4. Penggunaan Prosedur Medis Sederhana tapi Efektif
Meski alat medis terbatas, ketelitian tenaga kesehatan sangat tinggi sehingga banyak pasien yang mendapatkan perawatan efektif.
5. Pendekatan Manusiawi
Tenaga medis diwajibkan untuk memperlakukan pasien tanpa membedakan suku, status sosial, atau latar belakang.
Yunus Esagoi merupakan salah satu figur lokal yang menjadi saksi sekaligus bagian dari sejarah penting tersebut.
Sistem Penobatan di Papua Saat Ini: Integrasi Medis Modern & Kebijaksanaan Tradisional
Setelah beberapa dekade, Papua mengalami perubahan besar dalam dunia kesehatan. Sistem penobatan yang berlangsung saat ini merupakan perpaduan antara:
Layanan kesehatan modern melalui puskesmas, rumah sakit, dan klinik swasta;
Obat-obatan tradisional atau penobatan adat yang masih dipegang erat oleh masyarakat dari berbagai suku di Papua.
Yunus Esagoi menyampaikan bahwa meski teknologi medis masa kini jauh lebih maju, beberapa nilai warisan zaman Belanda tetap harus dipertahankan:
1. Kedisiplinan kerja tenaga kesehatan
2. Kebersihan yang tidak boleh dikompromikan
3. Pelayanan berdasarkan hati nurani
4. Pemberdayaan tenaga medis lokal
5. Kolaborasi antara tabib adat dan tenaga medis modern
Menurutnya, pendekatan yang menggabungkan kearifan lokal dan kedisiplinan modern akan menghasilkan pelayanan kesehatan yang lebih kuat dan cocok bagi karakter masyarakat Papua.
Tokoh Lokal sebagai Penjaga Sejarah Pelayanan Kesehatan di Papua
Yunus Esagoi bukan hanya saksi sejarah, tetapi juga bagian penting dari perjalanan kesehatan di Sorong dan wilayah sekitar. Pengalaman beliau menjadi pengingat bahwa kontribusi tokoh-tokoh lokal perlu didokumentasikan sebagai bagian dari sejarah kesehatan Papua.
Kisah beliau mengajarkan bahwa:
Papua memiliki fondasi pelayanan kesehatan yang kuat sejak masa lalu,
Tenaga kesehatan lokal memegang peranan besar dalam pelayanan masyarakat,
Sejarah dan pengalaman generasi sebelumnya merupakan sumber pembelajaran berharga bagi generasi tenaga kesehatan masa kini
Siaran pers ini disampaikan sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi Yunus Esagoi serta sebagai ajakan untuk menelusuri kembali sejarah pelayanan kesehatan di Papua yang penuh dinamika dan nilai kemanusiaan.
Liputan 4.id tim redaksi.

















