Makassar,~Liputan4.id Banyak orang cenderung percaya bahwa hanya mereka yang memiliki bakat alami yang dapat menjadi ahli dalam bidang tertentu. Padahal, bakat tanpa kerja keras hanyalah potensi yang tidak pernah berkembang. Sternberg menekankan bahwa keunggulan sejati dibangun melalui dedikasi, latihan yang berkesinambungan, serta tujuan yang jelas, sehingga seseorang mampu mengarahkan energi dan waktunya untuk benar-benar bertumbuh. Dengan kata lain, titik awal kita tidak sepenting arah dan konsistensi langkah yang kita ambil.
Lebih jauh, gagasan ini menantang mitos tentang “orang jenius” yang sering diagungkan. Sejarah membuktikan bahwa banyak tokoh besar, entah itu ilmuwan, seniman, maupun atlet, bukan semata karena anugerah bawaan, tetapi karena ribuan jam kerja keras yang mereka curahkan. Disiplin sehari-hari, kesabaran untuk memperbaiki kesalahan, serta keberanian menghadapi kegagalan jauh lebih berperan daripada sekadar kecerdasan alamiah. Sternberg mengajarkan bahwa kemampuan bukanlah sesuatu yang statis; ia dapat dibentuk, diasah, bahkan ditransformasi, asalkan ada tekad yang kuat dan arah yang terencana.
Selain itu, pernyataan ini memberi harapan bahwa kesempatan menjadi ahli terbuka untuk siapa saja. Mereka yang merasa “tidak cukup berbakat” tidak seharusnya berhenti bermimpi, karena penentu utama bukanlah titik awal, melainkan kemauan untuk terus berusaha. Seorang musisi bisa lahir tanpa bakat luar biasa, namun dengan latihan konsisten dan tujuan yang jelas, ia bisa mencapai tingkat mahir. Begitu pula seorang penulis atau pengusaha: kualitas mereka terbangun bukan dari bakat murni, tetapi dari kerja keras yang terarah. Ketika usaha dipadukan dengan visi yang jelas, setiap keterampilan dapat ditingkatkan, bahkan melampaui mereka yang hanya mengandalkan bakat bawaan.
Pada akhirnya, pesan Sternberg adalah seruan untuk menumbuhkan kesadaran bahwa pencapaian adalah hasil dari pilihan sadar, bukan takdir yang sudah ditentukan. Kerja keras dengan maksud yang jelas ibarat fondasi kokoh bagi setiap bangunan keahlian. Tanpa itu, bakat sebesar apa pun bisa runtuh oleh kemalasan dan arah yang kabur. Sebaliknya, orang biasa dengan disiplin luar biasa mampu melampaui ekspektasi. Maka, yang perlu kita tanamkan bukanlah pertanyaan “apakah aku berbakat?”, melainkan “apakah aku bersedia bekerja keras dengan arah yang jelas?”. Dari situlah keahlian sejati tumbuh, dan dari situlah seseorang menemukan makna dari setiap usaha yang dijalaninya.















