Makassar ~ Liputan4indonesia.id
Jamal pamungkas buka suara tentang dengan politik Sebagai Selokan Sinis
Dalam banyak yang mengaku demokratis, kontestasi politik secara formal memang berlangsung damai: ada pemilu, ada debat, ada kampanye. Namun di balik layar, pertempuran sesungguhnya sering terjadi pada level pembiayaan—siapa mendanai siapa, kepentingan apa yang diikat, dan kebijakan apa yang dijanjikan sebagai imbalan. Uang menjadi logistik perang: ia membayar iklan, konsultan, survei, bahkan membentuk persepsi publik tentang apa yang mungkin dan apa yang tidak”Ujar (JP)
Bevins, yang banyak menelusuri bagaimana gerakan dan kekuasaan berinteraksi dalam pusaran global, kerap menunjukkan bahwa hasil politik jarang ditentukan oleh idealisme semata. Ada jejaring donor, korporasi, lembaga internasional, dan elite lokal yang saling berkelindan. Dalam struktur seperti itu, kandidat tanpa akses pada sumber daya finansial sering kali bahkan tak sempat memasuki arena.
Tetapi menyederhanakan politik menjadi sekadar soal uang juga berbahaya. Uang memang memperbesar suara, namun legitimasi tetap membutuhkan narasi dan organisasi. Sejarah menunjukkan bahwa ketika ketimpangan antara modal dan kehendak rakyat terlalu jauh, ketegangan akan mencari jalannya sendiri—kadang lewat kotak suara, kadang lewat jalanan.
Jika politik benar-benar menyerupai perang, maka uang adalah amunisinya. Namun seperti dalam perang, kemenangan yang hanya bergantung pada suplai tanpa dukungan moral dan strategi jangka panjang sering kali rapuh”Ujar (JP)
(Tim)















