Example floating
Example floating
Example 728x250
Berita

Profil Abraham Samad: Sang “Pendekar” Antikorupsi dari Makassar yang Mengguncang Senayan

23
×

Profil Abraham Samad: Sang “Pendekar” Antikorupsi dari Makassar yang Mengguncang Senayan

Sebarkan artikel ini

Jakarta ~ Liputan4indonesia.id Selasa.(24/03/2026)
Nama Abraham Samad akan selalu tercatat dalam sejarah hukum Indonesia sebagai sosok yang membawa warna baru bagi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Terpilih sebagai Ketua KPK periode 2011–2015, pria kelahiran Makassar, 27 November 1966 ini dikenal dengan gaya bicaranya yang tegas dan keberaniannya dalam menyentuh kasus-kasus besar yang melibatkan tokoh-tokoh kuat di negeri ini.

Akar Perlawanan dari Sulawesi Selatan
Sebelum dikenal di panggung nasional, Abraham Samad adalah seorang pengacara dan aktivis yang sangat disegani di Sulawesi Selatan. Alumnus doktoral hukum Universitas Hasanuddin ini mendirikan Anti Corruption Committee (ACC) Sulawesi, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang vokal dalam membongkar praktik rasuah di wilayah Timur Indonesia.

Disertasinya yang mengupas tuntas perbedaan penanganan kasus korupsi di pengadilan negeri dan pengadilan khusus seolah menjadi “pemanasan” sebelum ia benar-benar terjun langsung memimpin institusi antirasuah tertinggi di tanah air.

“Kuda Hitam” yang Menang Telak di DPR
Masuknya Abraham ke KPK sempat mengejutkan banyak pihak. Ia adalah “kuda hitam” yang berhasil menumbangkan tokoh-tokoh besar seperti Busyro Muqoddas dan Bambang Widjojanto dalam pemungutan suara di DPR pada Desember 2011. Dengan raihan 43 suara dari 56 anggota Komisi III, Abraham Samad resmi dilantik oleh Presiden SBY untuk menakhodai lembaga prestisius tersebut.

Selama masa kepemimpinannya, KPK dikenal sangat progresif. Berbagai dukungan mengalir deras dari Koalisi Masyarakat Anti-Korupsi, LBH Makassar, hingga berbagai kelompok pemantau legislatif yang melihat sosoknya sebagai harapan baru bagi bersihnya pemerintahan.

Dinamika Politik dan Kontroversi Pencalonan Wapres
Perjalanan karier Abraham Samad tidak lepas dari riak politik yang kencang. Menjelang Pilpres 2014, namanya sempat santer dikaitkan sebagai salah satu kandidat kuat pendamping Joko Widodo. Namun, dinamika internal koalisi akhirnya memilih Jusuf Kalla sebagai posisi cawapres.

Momen ini kemudian memicu ketegangan politik, terutama setelah munculnya pernyataan dari petinggi PDIP mengenai keterlibatan Abraham dalam proses lobi-lobi politik. Meski Abraham membantah keras tudingan tersebut, bayang-bayang politik praktis mulai mewarnai hari-harinya di penghujung masa jabatan sebagai Ketua KPK.

Kriminalisasi atau Penegakan Hukum?
Puncak drama kepemimpinan Abraham Samad terjadi pada awal 2015. Pasca penetapan calon Kapolri saat itu sebagai tersangka oleh KPK, Abraham justru terjerat kasus hukum terkait dugaan pemalsuan dokumen administrasi (KTP dan Kartu Keluarga) di Sulawesi Selatan.

Penetapan status tersangka oleh Polda Sulselbar ini memicu gelombang protes dari masyarakat sipil yang menganggap kasus tersebut sebagai bentuk “kriminalisasi” atau pembalasan dendam (cicak vs buaya jilid sekian). Akibat kasus ini, Presiden Jokowi memberhentikan sementara Abraham Samad dari jabatannya sebagai Ketua KPK untuk fokus menjalani proses hukum.

Warisan Ketegasan
Meskipun masa jabatannya berakhir di tengah badai hukum, Abraham Samad telah meletakkan standar tinggi dalam hal keberanian seorang pimpinan KPK. Ia membuktikan bahwa seorang putra daerah dari Makassar mampu mengguncang kemapanan di Jakarta dengan modal integritas dan keberanian.

Kini, Abraham Samad tetap aktif menyuarakan isu-isu keadilan dan pemberantasan korupsi sebagai tokoh masyarakat, mengingatkan bangsa ini bahwa perjuangan melawan rasuah adalah perjalanan panjang yang penuh risiko.

Sumber: Wikipedia (Profil Abraham Samad)

(Tim)

#AbrahamSamad #KPK #Antikorupsi #HukumIndonesia #ProfilTokoh #Makassar #TokohBangsa #Keadilan

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *