Example floating
Example floating
Example 728x250
BeritaDaerahInternasionalNasional

Ancaman Deforestasi Food Estate Merauke dan Kerusakan Kawasan Sakral Gunung Cycloop Papua

167
×

Ancaman Deforestasi Food Estate Merauke dan Kerusakan Kawasan Sakral Gunung Cycloop Papua

Sebarkan artikel ini

liputan4.id Papua, 28 Desember 2025

Pembukaan lahan untuk proyek Food Estate Merauke berpotensi menyebabkan deforestasi besar-besaran di wilayah Papua Selatan dan Papua secara umum. Yayasan Pusaka Bentala Rakyat menegaskan bahwa program pangan berskala besar ini tidak hanya mengancam ekosistem alami, tetapi juga melanggar prinsip perlindungan lingkungan hidup dan hak masyarakat adat.

Berdasarkan catatan Forest Watch Indonesia (FWI), deforestasi di wilayah Papua Selatan meningkat lebih dari dua kali lipat dan mencapai sekitar 190.000 hektar pada periode 2022–2023, yang berkaitan erat dengan proyek Food Estate Merauke. Deforestasi ini turut menyumbang peningkatan emisi karbon dioksida hingga 782,45 juta ton, bertolak belakang dengan komitmen Pemerintah Indonesia untuk mencapai Net Zero Emission tahun 2050.

Kerusakan hutan akibat pembukaan lahan tersebut mengancam keanekaragaman hayati Papua, termasuk habitat satwa endemik dan keseimbangan ekosistem yang menjadi sumber kehidupan masyarakat adat secara turun-temurun.

Selain itu, Lembaga Investigasi Negara Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, menegaskan penolakan terhadap segala bentuk pembukaan lahan, penebangan pohon, dan pengambilan batu di kawasan hutan dan lereng gunung, baik oleh masyarakat pendatang maupun pihak-pihak lain yang tidak memiliki hak dan kepentingan sah. Kawasan tersebut merupakan wilayah adat yang menjadi jati diri masyarakat Holandia, Tabi, dan Sentani, serta sumber kehidupan, obat-obatan alami, dan ruang spiritual yang diwariskan secara turun-temurun di Tanah Papua.

Salah satu kawasan yang kini menghadapi ancaman serius adalah Gunung Cycloop (Robhong Holo/Dafonsoro) di Jayapura. Bagi masyarakat adat Sentani, gunung ini merupakan simbol “ibu pemberi kehidupan”, sumber utama air bagi Danau Sentani, serta hutan keramat yang dijaga secara adat. Dalam kepercayaan lokal, penebangan pohon dan perusakan hutan Cycloop diyakini dapat memicu bencana alam seperti banjir dan longsor.

Gunung Cycloop telah ditetapkan sebagai Cagar Alam sejak tahun 1975, namun saat ini menghadapi tekanan berat akibat pembukaan lahan, penambangan liar, dan eksploitasi kayu di kawasan lereng. Ironisnya, pada tahun 2023, para ilmuwan justru menemukan kembali spesies langka Zaglossus attenboroughi (ekidna moncong panjang) di kawasan pegunungan ini, yang menegaskan pentingnya Cycloop sebagai wilayah konservasi dunia.

Atas kondisi tersebut, masyarakat adat dan organisasi masyarakat sipil mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk:

  1. Menghentikan perluasan Food Estate Merauke yang merusak hutan alam Papua.

  2. Melindungi kawasan sakral dan cagar alam, khususnya Gunung Cycloop, dari segala bentuk perusakan.

  3. Mengakui dan menghormati hak masyarakat adat atas wilayah kelola dan ruang hidup mereka.

  4. Menyelaraskan kebijakan pembangunan pangan dengan komitmen perlindungan lingkungan dan iklim global.

Papua bukan sekadar ruang pembangunan, melainkan rumah kehidupan, identitas, dan masa depan masyarakat adat serta dunia.


Kontak Media:
Lembaga Investigasi Negara Kabupaten Mimika
Yayasan Pusaka Bentala Rakyat

liputan 4
Kastria Ordo van Oranje Nassau
28 Desember 2025 – Cartenz

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *