KOMPAS PAPUA | TEMINABUAN, 2 SEPTEMBER 2026
Potensi sagu sebagai salah satu komoditas pangan lokal di Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya, terus didorong agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. Salah satunya melalui pelatihan pembuatan aneka kue berbahan dasar sagu yang diikuti 40 peserta dari sejumlah distrik di wilayah Sorong Selatan.
Kegiatan bimbingan teknis (bimtek) tersebut diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA), Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, dengan dukungan Rumah Aspirasi Rumah Masyarakat Papua Barat serta Anggota DPR RI daerah pemilihan Papua Barat Daya, Rico Sia.
Pelatihan ini menjadi salah satu upaya memberikan keterampilan praktis kepada masyarakat agar bahan pangan lokal yang selama ini banyak dikonsumsi secara tradisional dapat dikembangkan menjadi produk olahan yang mempunyai nilai jual dan berpotensi menjadi usaha ekonomi produktif.

Sagu Tidak Hanya untuk Konsumsi, tetapi Bisa Menjadi Produk Bernilai Ekonomi
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pembekalan dan praktik langsung mengenai cara mengolah sagu menjadi berbagai jenis kue. Materi diberikan secara langsung oleh tim dari kementerian yang memiliki kompetensi di bidang pengembangan industri kecil dan menengah.
Peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai proses pembuatan kue, tetapi juga diperkenalkan dengan pentingnya menjaga kualitas produk, kebersihan dalam proses produksi, pengemasan, serta peluang pengembangan usaha berbasis bahan baku lokal.
Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Peserta diberi kesempatan untuk mengikuti setiap tahapan pengolahan, mulai dari persiapan bahan, proses pencampuran, pengolahan adonan, hingga menghasilkan produk kue yang siap dikonsumsi maupun dipasarkan.
Bagi masyarakat Sorong Selatan, kegiatan tersebut dinilai memiliki arti penting karena sagu merupakan salah satu sumber pangan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Papua.

Pengolahan sagu menjadi produk modern seperti aneka kue membuka peluang agar komoditas lokal tersebut tidak hanya bernilai sebagai bahan pangan rumah tangga, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk UMKM yang mampu menghasilkan pendapatan bagi keluarga.
40 Peserta dari Sejumlah Distrik
Sebanyak 40 peserta mengikuti bimtek tersebut. Mereka berasal dari beberapa distrik di Kabupaten Sorong Selatan dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan antusias.
Keterlibatan peserta dari berbagai distrik diharapkan dapat memperluas dampak pelatihan. Setelah mengikuti bimtek, peserta diharapkan mampu mempraktikkan pengetahuan yang diperoleh di lingkungan masing-masing dan mengembangkan usaha pengolahan pangan berbahan dasar sagu.
Dengan demikian, ilmu yang diperoleh tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat diterapkan menjadi kegiatan ekonomi produktif.
Dinas UMKM Sorong Selatan Turut Hadir
Dinas yang membidangi UMKM Kabupaten Sorong Selatan turut hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadiran pemerintah daerah menunjukkan adanya dukungan terhadap pengembangan pelaku usaha kecil serta pemanfaatan potensi bahan baku lokal.
Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, DPR RI dan masyarakat dinilai menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem UMKM di daerah.
Pemerintah daerah diharapkan dapat terus memberikan pendampingan setelah pelatihan, terutama dalam membantu pelaku usaha mengembangkan legalitas usaha, kemasan, pemasaran, akses pembiayaan, hingga perluasan pasar.

Dorong Generasi Muda dan Perempuan Manfaatkan Potensi Lokal
Pengembangan produk berbahan sagu juga dinilai dapat membuka ruang lebih luas bagi masyarakat, khususnya kelompok perempuan dan generasi muda, untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi kreatif.
Jika dikelola secara serius, produk kue berbahan sagu dapat menjadi salah satu produk khas Sorong Selatan yang dipasarkan tidak hanya di tingkat distrik dan kabupaten, tetapi juga ke wilayah lain di Papua Barat Daya.
Potensi tersebut semakin besar apabila produk lokal memiliki kemasan yang menarik, standar produksi yang baik, serta strategi pemasaran yang mampu memanfaatkan pasar digital.
Sagu Harus Memiliki Nilai Tambah
Dukungan Anggota DPR RI Dapil Papua Barat Daya, Rico Sia, melalui Rumah Aspirasi Rumah Masyarakat Papua Barat, menjadi bagian dari upaya menghadirkan program pemberdayaan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Pelatihan seperti ini diharapkan tidak hanya menghasilkan keterampilan baru, tetapi juga menciptakan peluang usaha dan lapangan pekerjaan.
Pengolahan bahan baku lokal menjadi produk jadi merupakan langkah penting untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat. Sagu yang selama ini dikenal sebagai pangan tradisional dapat dikembangkan menjadi berbagai produk modern yang mempunyai daya saing.

Dari Sagu Lokal Menuju Produk Unggulan Daerah
Bimtek tersebut menjadi momentum bagi masyarakat Sorong Selatan untuk melihat sagu dari perspektif yang lebih luas.
Sagu tidak hanya dipandang sebagai warisan pangan masyarakat Papua, tetapi juga sebagai bahan baku industri pangan yang dapat dikembangkan secara kreatif.
Dari tepung sagu yang berasal dari wilayah sendiri, masyarakat dapat menghasilkan produk bernilai ekonomi melalui inovasi, keterampilan dan pengelolaan usaha yang baik.
Karena itu, keberlanjutan program menjadi hal yang sangat penting. Pelatihan lanjutan, pendampingan usaha, bantuan peralatan produksi, penguatan kemasan dan akses pasar akan menjadi faktor penentu agar keterampilan yang diperoleh 40 peserta dapat berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan.
Liputan Khusus Kompas Papua — Sorong Selatan
TEMINABUAN, PAPUA BARAT DAYA















