INTAN JAYA – Suasana damai di Kampung Danggoa, Distrik Agisiga, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, mendadak berubah menjadi mencekam pada Kamis (18/06). Sebuah ledakan dahsyat yang diduga berasal dari granat yang dijatuhkan melalui pesawat nirawak (drone) menghantam wilayah pemukiman warga.
Serpihan ledakan tersebut melukai dua warga sipil, salah satunya adalah Aliana Pogau, seorang perempuan difabel setempat, serta seorang warga lainnya bernama Ottopina Hogajau.
Insiden ini memicu kecaman keras dari pihak keluarga dan komunitas lokal. Kejadian yang menimpa Aliana dinilai sebagai bentuk nyata dari abainya perlindungan terhadap warga sipil di wilayah konflik.
“Ini bukan kejadian biasa! Bagaimana bisa drone menjatuhkan bahan peledak di tengah pemukiman, bahkan sampai melukai seorang perempuan difabel yang tidak berdaya? Ini sungguh tidak manusiawi,” ujar salah satu perwakilan keluarga korban dengan nada bergetar.
Trauma Mendalam dan Kerusakan Fasilitas Umum
Ledakan tersebut tidak hanya meninggalkan luka fisik yang serius bagi Aliana dan Ottopina, tetapi juga menghancurkan fasilitas publik yang sakral bagi masyarakat setempat. Bangunan Gereja GKII di Kampung Danggoa dilaporkan mengalami kerusakan akibat hantaman serpihan peledak.
Dampak psikologis dari insiden ini jauh lebih masif. Letupan bom dari langit telah menciptakan trauma mendalam bagi warga Kampung Danggoa. Kini, mereka terpaksa hidup dalam bayang-bayang ketakutan, merasa langit di atas rumah mereka tidak lagi aman.
Jeritan Warga Sipil di Tengah Konflik
Kasus Aliana Pogau menjadi potret kelam bagaimana warga sipil, terutama kelompok rentan seperti penyandang disabilitas, selalu menjadi korban paling menderita dalam eskalasi konflik di Papua.
Hingga berita ini diturunkan, warga mendesak adanya investigasi menyeluruh dan transparan atas kepemilikan dan operasional drone misterius tersebut. Masyarakat menuntut jaminan keamanan agar ruang hidup mereka, termasuk rumah ibadah, tidak lagi menjadi sasaran empuk dalam pusaran konflik bersenjata.















