Makassar ~Liputan4.id .Dalam kehidupan biasa, kebohongan dan kecurangan adalah aib. Tetapi di panggung politik, perilaku itu kerap dibungkus dengan istilah “strategi”, “kompromi”, atau “kepentingan bangsa”. Seorang politisi bisa saja mengingkari janji kampanye, namun tetap dielu-elukan selama mampu menjaga citra dan menguasai narasi publik.
Kenyataan ini menunjukkan betapa politik sering kali berjalan di atas logika ganda. Apa yang di mata rakyat tampak sebagai pengkhianatan, bisa diubah menjadi “prestasi” lewat media, framing, atau sekadar pencitraan. Tidak sedikit politisi yang terjerat kasus korupsi atau kebijakan blunder, namun tetap dihormati dalam acara resmi, seolah dosa politik bisa ditebus dengan senyum di depan kamera. Politik dalam hal ini menyerupai panggung sandiwara, di mana aktor yang lihai memainkan peran akan selalu disambut tepuk tangan.
Karena itu, kutipan ini bukan sekadar sindiran, tetapi peringatan bagi rakyat. Jika publik terus membiarkan politik menjadi arena pemutihan kebohongan dan penipuan, maka kehormatan akan kehilangan maknanya. Politik akan semakin jauh dari nilai pengabdian, dan semakin dekat dengan industri pencitraan. Hanya dengan rakyat yang kritis dan berani menagih akuntabilitas, politik bisa kembali pada tujuan sejatinya: melayani kepentingan umum, bukan memperkaya atau mengabadikan segelintir orang.
(Red/Tim)















