Makassar,~Liputan4.id. Ketika jabatan diisi oleh mereka yang tamak dan hanya fokus memperkaya diri, lingkungan menjadi korban pertama. Penjahat yang duduk di kursi kekuasaan tidak membangun negara; mereka merusaknya perlahan sambil menumpuk keuntungan pribadi. Mereka memberi izin eksploitasi alam tanpa kajian, membuka tambang di wilayah rawan, dan menutup mata terhadap kerusakan yang sudah terang di depan mata. Dan ketika kekuasaan hanya dipakai untuk melindungi kepentingan segelintir orang, rakyatlah yang kemudian harus membayar harga paling mahal.
Kerusakan lingkungan yang terjadi di banyak daerah Sumatra dalam beberapa tahun terakhir adalah contoh nyata bagaimana kerakusan manusia menghasilkan bencana. Penambangan liar, pembalakan hutan, dan eksploitasi alam tanpa batas telah membuat tanah kehilangan pegangan, sungai kehilangan kedalaman, dan gunung kehilangan lapisan pelindung. Banjir bandang yang menghantam puluhan desa, serta tanah longsor yang menelan rumah dan nyawa, bukan sekadar bencana alam—itu adalah konsekuensi dari kebijakan yang dibangun di atas keserakahan. Bencana itu tidak turun tiba-tiba; ia lahir dari keputusan-keputusan yang sembrono, dari izin usaha yang dibeli dengan amplop, dari pemimpin yang lebih memilih tutup mata daripada bertanggung jawab.
Bangsa hanya bisa selamat jika kesadaran rakyatnya bangkit. Jika masyarakat tetap diam, para perusak negara dan perusak lingkungan akan terus bekerja dalam gelap. Mereka akan membuka tambang baru, menebang hutan yang tersisa, dan merampas masa depan anak-anak tanpa rasa bersalah. Karena itu, perubahan tidak hanya menuntut pemimpin yang bersih, tetapi rakyat yang berani bersuara. Ketika masyarakat mulai sadar bahwa keselamatan lingkungan adalah keselamatan kehidupan, maka kerakusan tidak lagi bisa berkeliaran dengan bebas. Sumatra tidak membutuhkan lebih banyak tambang—Sumatra membutuhkan lebih banyak penjaga: orang-orang yang berani mengatakan bahwa bumi bukan warisan untuk dijarah, tetapi amanah yang harus dijaga. Dan ketika suara rakyat menjadi benteng terakhir, barulah negara benar-benar bisa dibangun, bukan dihancurkan dari dalam.















