Barru, ~kompaspp.id. Dalam keadaan seperti itu, perhatian manusia menyempit hanya pada hal-hal yang bersifat duniawi. Hidup diukur dari apa yang dimiliki, bukan dari apa yang bermakna. Uang menjadi pusat orientasi, seolah-olah di situlah nilai diri ditentukan, dan segala sesuatu dinilai dari seberapa besar keuntungan yang bisa diperoleh.
Ketika nilai-nilai mulai bergeser, arah hidup pun ikut berubah. Apa yang seharusnya menjadi pedoman justru tergantikan oleh hal-hal yang bersifat sementara. Dari situ, manusia bisa kehilangan keseimbangan—mengejar kenikmatan tanpa batas, tetapi semakin jauh dari ketenangan.
Mungkin karena itu, gambaran tentang zaman seperti ini bukan sekadar peringatan, tetapi ajakan untuk kembali melihat ke dalam. Bahwa hidup tidak hanya tentang memenuhi keinginan, tetapi tentang menjaga arah agar tetap berpijak pada nilai yang benar, sehingga hati tidak terus-menerus merasa kosong di tengah banyaknya yang dimiliki. ujar JP















